MASAKINI.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1.556 kejadian gempa bumi terjadi di wilayah Aceh sepanjang tahun 2025. Dari jumlah tersebut, 75 gempa dirasakan masyarakat, dengan magnitudo terbesar mencapai M6,3.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Aceh Besar, Andi Azhar Rusdin, mengatakan data tersebut merupakan rangkuman aktivitas seismik Aceh selama satu tahun terakhir yang menunjukkan tingginya tingkat kegempaan di wilayah tersebut.
“Sebagian besar gempa berkekuatan kecil, namun ada beberapa kejadian signifikan yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Andi Azhar, Kamis (1/1/2026).
Jika dilihat berdasarkan kekuatan, terdapat 1.086 gempa bermagnitudo di bawah 3, kemudian 451 gempa bermagnitudo 3 hingga kurang dari 5, serta 19 gempa bermagnitudo di atas 5.
Sepanjang tahun lalu, BMKG juga mencatat lima gempa signifikan, dua di antaranya berkekuatan M6,3 yang terjadi di wilayah laut sekitar Sinabang dan Sabang. Selain itu, tiga gempa berkekuatan M5,9 tercatat masing-masing di Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, dan Sinabang.
Dari sisi kedalaman, sebanyak 1.466 gempa tergolong dangkal, 90 gempa berkedalaman menengah, dan tidak terdapat gempa berkedalaman sangat dalam yang berdampak luas. “Kedalaman terdalam yang pernah terjadi mencapai 222km. Nah aktivitas gempa tertinggi terjadi pada September dan Oktober 2025,” sebutnya.
Andi Azhar menjelaskan, secara keseluruhan jumlah kejadian gempabumi di Aceh pada 2025 meningkat sekitar 39 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini dipengaruhi oleh kondisi tektonik Aceh yang berada di wilayah seismik aktif.
“Wilayah Aceh dipengaruhi dua sumber gempa utama, yakni zona tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia di laut barat Aceh, serta sejumlah patahan aktif di laut dan daratan Aceh,” jelasnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta memahami langkah-langkah mitigasi bencana gempa bumi. Masyarakat juga diminta hanya mengakses informasi resmi dari BMKG guna menghindari hoaks.
“Gempa bumi tidak dapat diprediksi waktunya, tetapi dampaknya dapat diminimalkan dengan kesiapsiagaan dan pemahaman risiko,” pungkas Andi Azhar.








Discussion about this post