MASAKINI.CO – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pembela Tanah Aceh (GAMPATA) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Aceh, Senin (2/3/2026). Aksi tersebut digelar sebagai bentuk protes dan desakan terhadap Pemerintah Aceh terkait penanganan bencana hidrometeorologi 2025.
Dalam orasinya, massa aksi menyoroti transparansi pengelolaan bantuan dan penggunaan anggaran penanganan bencana. Mereka mempertanyakan keterbukaan pemerintah dalam mempublikasikan dokumen perencanaan hingga realisasi anggaran, serta meminta aparat penegak hukum turun tangan apabila ditemukan dugaan pelanggaran.
Koordinator lapangan aksi, Saputra Ariga, menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai lambat merespons kehadiran massa sejak awal aksi berlangsung.
“Mereka tidak berani menjumpai kita, berarti ada yang tidak beres di dalam sana,” ujar Saputra dalam orasinya.
Ia juga menuntut agar Gubernur Aceh menempatkan pejabat sesuai kompetensi dan kapasitas di bidangnya masing-masing. Menurutnya, hingga kini belum ada perwakilan Pemerintah Aceh yang mampu memberikan jawaban komprehensif atas tuntutan mahasiswa.
“Kita menuntut kepada bapak gubernur untuk menempatkan orang-orang yang berkapasitas di bidangnya, karena sampai saat ini belum ada Pemerintah Aceh yang mampu menjawab setiap tuntutan massa aksi,” tambahnya.
Adapun tuntutan yang disampaikan GAMPATA antara lain meminta Pemerintah Aceh membuka secara transparan dokumen perencanaan dan realisasi penanganan bencana, mempublikasikan daftar nama relawan beserta rincian anggaran yang diterima, serta memberikan penjelasan terkait penggunaan dana TKD sebesar Rp1,6 triliun. Massa juga mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut dugaan tindak pidana korupsi dalam penanganan bencana tersebut.
Setelah beberapa waktu berorasi, massa akhirnya ditemui Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Muhammad Syahril. Ia memberikan penjelasan terkait bantuan logistik yang masuk ke Aceh melalui jalur pangkalan udara.
“Saya tadi menjelaskan soal bantuan yang masuk melalui lanud. Kemarin ada sekitar 2.500 ton logistik yang tiba di Aceh lewat jalur tersebut, berupa bahan makanan dan juga peralatan,” ujarnya.







Discussion about this post