MASAKINI.CO – Manajemen RSUD Aceh Besar membantah kabar yang menyebutkan adanya kekosongan obat hingga lima bulan. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa informasi tersebut tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Direktur RSUD Aceh Besar, Bunaiya Putra, mengatakan pelayanan kesehatan tetap berjalan normal meski sempat adanya keterbatasan pada beberapa jenis obat.
“Kalau benar sampai lima bulan obat kosong, tentu pelayanan sudah lumpuh sejak lama. Faktanya tidak demikian. Yang terjadi hanya keterbatasan sementara pada beberapa jenis obat dan itu segera kami atasi,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Ia menjelaskan, manajemen secara rutin memantau ketersediaan obat melalui unit farmasi. Setiap stok yang mulai menipis langsung didata untuk segera dilakukan pengadaan, sehingga tidak terjadi kekosongan dalam waktu lama, apalagi hingga berbulan-bulan.
Kepala Bidang Farmasi, Ika Darmiati, menambahkan bahwa kondisi di lapangan bukanlah kekosongan total, melainkan hanya keterbatasan pada beberapa item tertentu. Dalam situasi tersebut, pihak rumah sakit tetap memberikan pelayanan dengan menyiapkan obat alternatif yang memiliki fungsi serupa.
“Untuk obat tertentu seperti insulin atau pengencer darah, jika stok utama terbatas, kami gunakan alternatif dengan khasiat yang setara,” jelasnya.
Menurutnya, peningkatan jumlah pasien, khususnya di Poli Jantung yang mulai beroperasi awal tahun ini, turut memengaruhi kebutuhan obat. Meski demikian, koordinasi dengan dokter spesialis terus dilakukan agar ketersediaan obat tetap terjaga.
Hal senada disampaikan dokter spesialis penyakit dalam, Yanti Trisnawati. Ia memastikan bahwa pelayanan kepada pasien tidak terganggu meski ada keterbatasan obat tertentu.
“Jika ada obat yang tidak tersedia, biasanya langsung kami cari penggantinya. Tidak sampai menunggu lama,” ujarnya.
Dalam kondisi mendesak, rumah sakit juga menyiapkan rujukan ke fasilitas kesehatan lain, seperti RSUD Zainoel Abidin, guna memastikan pasien tetap mendapatkan penanganan yang dibutuhkan.









Discussion about this post