MASAKINI.CO – Ketergantungan tinggi terhadap kedelai impor mulai menekan pelaku usaha pangan lokal. Di tengah fluktuasi harga global, Aceh mendorong kacang koro pedang sebagai alternatif bahan baku tempe untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Isu ini menguat dalam pemutaran dan diskusi film dokumenter tentang pengembangan ekosistem bisnis koro pedang. Forum tersebut menyoroti dampak langsung impor kedelai terhadap stabilitas usaha kecil, terutama produsen tempe dan tahu.
Kabid Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Syafrizal, menegaskan kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan. “Penguatan ketahanan pangan lokal menjadi sangat penting, terutama melalui pengembangan komoditas alternatif seperti kacang koro pedang untuk mengurangi ketergantungan pada kedelai impor,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Indonesia masih mengimpor sekitar 3,2 juta ton kedelai per tahun. Ketergantungan ini membuat pelaku usaha rentan terhadap lonjakan harga dan gangguan pasokan, yang berdampak langsung pada biaya produksi dan harga jual.
Kacang koro pedang dinilai menjadi solusi karena dapat ditanam di lahan marginal dan memiliki kandungan protein yang bersaing. Pengembangannya juga membuka peluang ekonomi baru dari sektor hulu hingga hilir.
Di Aceh, pengembangan koro pedang mulai menunjukkan hasil dengan meningkatnya jumlah petani dan tumbuhnya unit pengolahan tempe. Sektor ini juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat, terutama perempuan.
“Kami sangat senang dengan adanya Rumah Tempe Nusa. Sekarang kami sudah memiliki penghasilan sendiri,” ujar Nurma, perajin tempe.
Dorongan pengembangan koro pedang menjadi sinyal bahwa ketahanan pangan tidak bisa lagi bergantung pada impor, melainkan harus dibangun dari potensi lokal yang berkelanjutan.










Discussion about this post