MASAKINI.CO – Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat pertumbuhan signifikan pada kuartal I 2026, baik secara nasional maupun di wilayah Aceh. Lonjakan jumlah nasabah, dana pihak ketiga (DPK), hingga aset memperkuat posisi perbankan syariah sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional dan daerah.
Regional CEO BSI Aceh, Imsak Ramadhan, mengatakan sejak merger pada 1 Februari 2021, jumlah nasabah BSI terus meningkat tajam. Hingga kuartal I 2026, total nasabah BSI secara nasional mencapai 23,7 juta orang atau bertambah sekitar 9,26 juta nasabah sejak penggabungan bank syariah dilakukan.
“Khusus pada tiga bulan pertama tahun 2026 saja, jumlah nasabah bertambah sekitar 0,5 juta,” kata Imsak dalam media gathering dengan awak media, Rabu (13/5/2026).
Pertumbuhan jumlah nasabah tersebut turut mendongkrak Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI yang naik 18 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp376,8 triliun pada triwulan I 2026.
Tidak hanya itu, pembiayaan BSI juga tumbuh double digit sebesar 14,39 persen menjadi Rp329 triliun. Meski pembiayaan meningkat signifikan, kualitas pembiayaan dinilai tetap terjaga dengan rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) gross sebesar 1,8 persen.
Menurut Imsak, pertumbuhan tersebut ikut mendorong total aset BSI meningkat menjadi Rp460,1 triliun per Maret 2026. Capaian itu sekaligus membawa BSI masuk jajaran lima besar bank terbesar di Indonesia setelah resmi menjadi bank persero pada Januari 2026.
“Ini menunjukkan bank syariah sekarang sudah sejajar dengan bank-bank besar Himbara lainnya,” ujarnya.
Di tingkat regional, BSI Aceh juga mencatat pertumbuhan positif. Dana pihak ketiga BSI Regional Aceh tumbuh 17,49 persen menjadi Rp21 triliun pada triwulan I 2026.
Sementara pembiayaan di Aceh meningkat 11,15 persen menjadi Rp25,4 triliun dengan kualitas pembiayaan yang tetap sehat. Total aset BSI Regional Aceh juga naik signifikan menjadi Rp26,4 triliun atau tumbuh 11,36 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Asisten Direktur OJK Aceh, Firman Octo Armando, menilai pertumbuhan perbankan syariah memiliki peran penting dalam menopang ekonomi Aceh, terutama di tengah penerapan sistem ekonomi berbasis syariah di daerah tersebut.
“Penguatan sektor jasa keuangan syariah menjadi salah satu fondasi penting untuk mendorong pembangunan ekonomi Aceh yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Firman.










Discussion about this post