MASAKINI.CO – UIN Ar-Raniry mulai mendorong mahasiswa sejarah untuk tampil di ruang digital dengan cara yang lebih kreatif dan relevan dengan generasi muda.
Melalui pelatihan bertajuk “Dari Cerita Masa Lalu Jadi FYP: Cara Mengemas Sejarah Menjadi Konten Viral”, Program Studi Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) mengajak mahasiswa mengubah citra sejarah yang selama ini dianggap kuno dan membosankan menjadi konten digital yang menarik dan mudah dipahami publik.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Mini FAH, Rabu (13/5/2026), itu turut dihadiri pimpinan fakultas mulai dari dekan, wakil dekan, ketua program studi hingga kepala tata usaha.
Dekan FAH menilai perkembangan media sosial harus dimanfaatkan mahasiswa sejarah untuk memperluas cara penyampaian ilmu kepada masyarakat. Menurutnya, sejarah tidak lagi cukup disampaikan melalui buku dan ruang kelas, tetapi juga harus mampu hadir di platform digital dengan kemasan yang lebih ringan dan dekat dengan generasi saat ini.
“Konten sejarah yang dikemas secara kontemporer diharapkan tidak hanya dinikmati mahasiswa sejarah, tetapi juga masyarakat luas melalui narasi singkat yang menarik,” ujarnya.
Pelatihan tersebut menghadirkan content creator Nata The Kongkow sebagai narasumber utama.Dalam pemaparannya, Nata menekankan bahwa viralitas konten tidak boleh mengorbankan kebenaran informasi, terutama ketika membahas sejarah.
Ia mengatakan banyak konten di media sosial yang mengejar perhatian publik, tetapi minim validasi dan referensi.“Konten yang kita sampaikan bukan hoaks, melainkan harus tetap berdasarkan referensi atau fakta-fakta sejarah yang valid,” tegasnya di hadapan peserta.
Menurut Nata, mahasiswa sejarah memiliki peluang besar menjadi kreator konten edukatif karena memiliki bekal akademik yang kuat dibanding sekadar mengikuti tren viral semata.
Sementara itu, Wakil Dekan III FAH, Hermansyah berharap pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan di lingkungan kampus.
Ia menilai kemampuan mengemas edukasi sejarah dalam format digital menjadi kebutuhan penting di tengah derasnya arus informasi media sosial.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilanjutkan dan diwariskan kepada angkatan berikutnya,” katanya.
Pihak penyelenggara menyebut mahasiswa Prodi SKI memiliki posisi strategis dalam membangun konten sejarah yang edukatif sekaligus menarik di era digital. Kegiatan ini merupakan inisiasi dosen SKI, yakni Inayatillah, Munawiah, dan Marduati dengan dukungan penuh dari Prodi SKI Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry.









Discussion about this post