MASAKINI. CO – Indonesia mulai memperkuat posisinya sebagai pemasok pupuk dunia setelah berhasil mengekspor pupuk urea ke Australia dengan nilai kerja sama mencapai sekitar Rp7 triliun.
Ekspor tersebut menjadi tonggak baru industri pupuk nasional yang kini bertransformasi dari negara dengan persoalan pasokan pupuk menjadi negara dengan surplus produksi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan ekspor perdana dilakukan melalui PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama PT Pupuk Kalimantan Timur dari Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur. Pada tahap awal, Indonesia melepas sebanyak 47.250 ton pupuk urea ke Australia dengan nilai sekitar Rp600 miliar.
“Rencana kita akan ekspor 250 ribu ton ke Australia dan kemudian ditingkatkan hingga 500 ribu ton,” ujar Amran, mengutip infopublik, Jumat (15/5/2026).
Menurutnya, total nilai kerja sama ekspor tersebut diperkirakan mencapai Rp7 triliun dan menjadi bagian dari penguatan kerja sama antarpemerintah atau government to government (G2G) antara Indonesia dan Australia.
Amran menilai keberhasilan ekspor tersebut menunjukkan daya saing industri pupuk nasional semakin kuat di pasar global. Ia mengatakan sejumlah negara lain juga mulai melirik pupuk produksi Indonesia, seperti India, Filipina, Brazil, hingga Bangladesh.
“Dubes India sudah menghubungi saya langsung meminta 500 ribu ton. Beberapa negara lain juga berminat meminta pupuk urea dari Indonesia,” katanya.
Keberhasilan tersebut, lanjut Amran, tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam membenahi tata kelola pupuk nasional, mulai dari distribusi hingga peningkatan kapasitas produksi.
Pemerintah sebelumnya menaikkan alokasi pupuk subsidi dari 4,55 juta ton menjadi 9,55 juta ton guna mendukung percepatan swasembada pangan nasional.
Selain itu, harga pupuk subsidi juga diturunkan hingga 20 persen tanpa menambah beban anggaran negara.
“Di saat geopolitik dunia memanas, Indonesia justru berhasil menurunkan harga pupuk subsidi dan menambah volumenya,” ujar Amran.
Pemerintah juga memangkas 145 aturan lintas kementerian dan lembaga untuk mempercepat distribusi pupuk kepada petani.
Tak hanya itu, pemerintah saat ini tengah menjalankan tujuh proyek strategis industri pupuk nasional dengan total investasi mencapai Rp72,84 triliun. Modernisasi dilakukan dengan mengganti pabrik lama yang boros energi menjadi fasilitas baru yang lebih efisien sehingga biaya produksi pupuk dapat ditekan hingga 26 persen lebih rendah.
Pemerintah juga mulai mengembangkan proyek methanol nasional di Aceh dan Bontang guna mengurangi ketergantungan impor bahan baku industri.
Amran menegaskan seluruh pembenahan sektor pupuk tersebut bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.
“Pupuk bukan hanya soal produksi dan distribusi. Pupuk adalah instrumen strategis menuju kedaulatan pangan nasional,” tegasnya.








Discussion about this post