MASAKINI.CO – Perpustakaan Kecamatan Montasik, Aceh Besar, mulai menggeser wajah literasi dari sekadar aktivitas membaca menjadi produksi konten digital. Dalam kegiatan Studi Literasi bersama siswa SMA Negeri 1 Montasik, buku-buku di rak perpustakaan “hidup kembali” lewat video edukatif karya pelajar.
Alih-alih berhenti pada rangkuman bacaan, di bawah naungan Dinas Arsip dan Perpustakaan Aceh Besar, siswa diajak mengolah isi buku menjadi karya visual yang dikemas dalam bentuk video, lalu diproyeksikan untuk dipublikasikan ke media sosial. Model ini menjadikan perpustakaan bukan lagi ruang pasif, melainkan laboratorium produksi gagasan.
Pengelola Perpustakaan Kecamatan Montasik, Jamalidiana, mengatakan pendekatan ini lahir dari kebutuhan untuk menjembatani dunia literasi dengan realitas generasi digital.
“Kalau dulu perpustakaan identik dengan membaca diam, sekarang harus berubah. Anak-anak tidak cukup hanya paham isi buku, tapi juga harus bisa mengubahnya menjadi karya yang bisa dibagikan,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan ini juga menyoroti pergeseran pola konsumsi informasi pelajar yang lebih banyak bersentuhan dengan media sosial dibandingkan buku teks. Karena itu, literasi diarahkan agar tidak tertinggal dari arus digital, tetapi justru ikut masuk ke dalamnya.
Salah satu peserta, Cut Lia Merisa dari SMA Negeri 1 Montasik, mengaku pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap aktivitas membaca.
“Biasanya baca buku hanya untuk tugas. Tapi sekarang kami harus berpikir bagaimana isi buku itu bisa jadi video. Jadi lebih menantang dan terasa nyata manfaatnya,” katanya.
Kepala SMA Negeri 1 Montasik, Dra. Yusniar, menilai kegiatan ini sebagai bentuk perluasan ruang belajar yang lebih kontekstual bagi siswa.
“Pembelajaran tidak lagi terbatas di kelas. Di perpustakaan, siswa bisa belajar sekaligus berkarya. Ini penting untuk membangun kreativitas dan kepercayaan diri mereka,” ujarnya.
Dari kegiatan ini, sejumlah video edukatif berhasil diproduksi dan direncanakan untuk dipublikasikan melalui kanal media sosial perpustakaan. Konten tersebut diharapkan tidak hanya menjadi karya siswa, tetapi juga sarana kampanye literasi digital di kalangan pelajar.
Pendekatan ini menjadi kontras di tengah data rendahnya minat baca nasional, sekaligus tingginya konsumsi media digital di kalangan usia sekolah. Montasik mencoba menjawab paradoks itu dengan satu langkah sederhana: membawa buku masuk ke dunia yang selama ini justru dianggap menjauh dari literasi.








Discussion about this post