MASAKINI.CO – Pengalaman Aceh menghadapi konflik bersenjata dan bencana tsunami dinilai menyimpan pelajaran penting dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi krisis. Isu tersebut menjadi fokus utama dalam Seminar Series I Program Studi Doktor Ilmu Kebencanaan Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK) yang digelar di Banda Aceh, Kamis (18/6/2026).
Seminar bertajuk “Memori, Perdamaian, dan Ketahanan Masyarakat dalam Menghadapi Krisis dan Bencana” itu mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi untuk membahas bagaimana pengalaman konflik dan bencana dapat menjadi dasar dalam merancang strategi pemulihan serta pengurangan risiko di masa depan.
Dalam forum tersebut, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USK, Alfi Rahman, memaparkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa konflik Aceh periode 1976-2005 dan tsunami Samudra Hindia 2004 tidak dapat dipahami sebagai dua peristiwa yang berdiri sendiri.
Menurutnya, kedua peristiwa tersebut membentuk krisis berlapis (layered disasters) yang secara bersamaan memengaruhi kerentanan, pengalaman hidup, hingga proses pemulihan masyarakat Aceh.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Asian Journal of Social Science itu menemukan bahwa proses pemulihan pascakrisis tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan rekonstruksi fisik.
“Tetapi juga oleh kekuatan solidaritas sosial, dukungan psikososial, praktik saling merawat di komunitas, serta pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi,” katanya.
Salah satu contoh yang disorot adalah kearifan lokal Smong di Simeulue yang terbukti berperan penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Penelitian tersebut juga mencatat peran perempuan dalam menjaga keberlangsungan keluarga dan komunitas selama masa konflik maupun pascatsunami.
Selain membahas pengalaman Aceh, seminar turut menyoroti peran media dalam situasi krisis dan pascakonflik. Akademisi Universitas Islam Indonesia (UII), Masduki, menilai media memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara masyarakat memahami krisis, mengingat peristiwa masa lalu, dan memaknai proses pemulihan.
Sementara itu, akademisi USK, Hamdani M. Syam, menekankan pentingnya pendekatan jurnalisme damai dalam peliputan konflik. Menurutnya, media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga dapat membantu mengurangi polarisasi dan mendorong proses rekonsiliasi di tengah masyarakat.
Di sela kegiatan, USK dan UII menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) untuk memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, publikasi ilmiah, pengabdian masyarakat, serta pengembangan kajian sosial, perdamaian, dan kebencanaan.
Kerja sama tersebut melibatkan Fakultas Ilmu Sosial Budaya UII, Sekolah Pascasarjana USK, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK, serta sejumlah pusat riset yang selama ini fokus pada isu sosial, konflik, dan mitigasi bencana.
Seminar ini menghasilkan satu benang merah bahwa pengalaman panjang Aceh menghadapi konflik dan tsunami tidak hanya menjadi bagian dari sejarah daerah, tetapi juga sumber pembelajaran penting dalam memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi berbagai ancaman krisis dan bencana di masa mendatang.









Discussion about this post