MASAKINI.CO – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menjadi pusat diskusi internasional terkait pengembangan infrastruktur tangguh terhadap perubahan iklim melalui penyelenggaraan The 7th Aceh International Symposium on Civil Engineering (AISCE) 2026, di Auditorium Fakultas Teknik USK, Senin (14/7/2026).
Mengusung tema Resilient Infrastructure under Climate Change, simposium tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai negara untuk membahas inovasi serta strategi pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap risiko perubahan iklim dan bencana.
Kegiatan dibuka Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemitraan, dan Bisnis USK, Dr. Ir. Ramzi Adriman, S.T., M.Sc., didampingi Dekan Fakultas Teknik Prof. Dr. Ir. Iskandar, S.T., M.Eng.Sc., IPM., ASEAN Eng., serta Kepala Departemen Teknik Sipil Dr. Ir. Yusria Darma, S.T., M.Eng.Sc.
Ketua Panitia, Dr. Muhammad Ahlan, S.T., M.Sc., mengatakan AISCE 2026 semakin mendapat pengakuan di tingkat internasional. Tahun ini, simposium menerima 40 makalah yang lolos seleksi, dengan 56 persen di antaranya berasal dari penulis luar negeri.
“Peserta berasal dari Inggris, Jepang, Irak, Pakistan, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Tingginya partisipasi internasional menunjukkan AISCE semakin menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan kolaborasi riset di bidang teknik sipil,” ujarnya.
Ia menambahkan, konferensi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kerja sama lintas negara sekaligus mendorong penelitian multidisiplin dalam menjawab tantangan pembangunan infrastruktur di tengah perubahan iklim.
Kepala Departemen Teknik Sipil USK, Yusria Darma, berharap AISCE mampu membuka peluang kolaborasi akademik jangka panjang dan memperkuat jejaring penelitian internasional.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik USK, Iskandar, menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dalam menghasilkan solusi rekayasa yang aplikatif.
Wakil Rektor USK Ramzi Adriman mengatakan tema yang diangkat tahun ini sangat relevan dengan kondisi Aceh yang belakangan menghadapi berbagai dampak cuaca ekstrem.
“Melalui konferensi ini kami berharap lahir berbagai solusi inovatif yang dapat memperkuat ketahanan infrastruktur, tidak hanya bagi Aceh tetapi juga untuk masyarakat global,” katanya.
AISCE 2026 menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Dr. Khamarrul Azahari Razak dari Universiti Teknologi Malaysia, Dr. Ezri Hayat dari Teesside University, Inggris, serta Prof. Dr. Syamsidik dari Universitas Syiah Kuala.
Ketiga akademisi tersebut membahas berbagai strategi pembangunan infrastruktur berbasis mitigasi risiko, pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan, hingga pengembangan bangunan evakuasi tsunami berbasis tsunami fragility curve di Banda Aceh.
Melalui penyelenggaraan AISCE 2026, USK menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi internasional, meningkatkan kualitas riset, serta mendorong lahirnya inovasi rekayasa untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang tangguh, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan iklim.









Discussion about this post