MASAKINI.CO – Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mendorong generasi muda mengambil peran sebagai motor penggerak dalam membangun kota yang tangguh menghadapi berbagai tantangan, mulai dari bencana hingga perubahan iklim dan krisis sosial.
Pesan tersebut disampaikan Illiza saat menjadi pembicara dalam sesi motivational speech pada ajang Youth City Changers (YCC) yang merupakan rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APEKSI XVIII di Le Polonia Hotel, Medan, Minggu (28/6/2026).
Di hadapan ratusan delegasi muda dari 70 kota di Indonesia, Illiza menegaskan bahwa ketangguhan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia, terutama generasi mudanya.
“Banda Aceh adalah contoh bahwa sebuah kota bisa bangkit dari tragedi jika memiliki semangat kolaborasi dan generasi yang mau mengambil peran,” ujarnya.
Illiza mengisahkan bagaimana tsunami 2004 meluluhlantakkan Banda Aceh dalam hitungan menit. Infrastruktur hancur, ribuan rumah rusak, dan puluhan ribu warga kehilangan nyawa. Namun, dari musibah tersebut Banda Aceh belajar bahwa pemulihan hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama semua pihak.
Menurutnya, pengalaman itu menjadi fondasi pembangunan Banda Aceh hingga saat ini, di mana pemerintah terus melibatkan masyarakat, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga mitra internasional dalam membangun kota yang lebih tangguh.
Ia juga mencontohkan respons Banda Aceh saat banjir melanda 18 kabupaten/kota di Aceh pada akhir 2025. Meski tidak menjadi wilayah dengan dampak terparah, Pemerintah Kota Banda Aceh tetap menginisiasi gerakan #BandaAcehPeduliuntuk membantu daerah terdampak.
Melalui gerakan tersebut, Banda Aceh menyalurkan bantuan logistik, layanan kesehatan, ambulans, trauma healing, dukungan pendidikan, hingga bantuan pemulihan infrastruktur dasar.
Bagi Illiza, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa ketangguhan bukan sekadar kemampuan bertahan menghadapi bencana, tetapi juga kepedulian untuk membantu daerah lain yang sedang mengalami kesulitan.
“Ketangguhan tidak lahir ketika kita hanya mampu menyelamatkan diri sendiri, tetapi ketika kita mampu bangkit dan ikut menguatkan orang lain,” katanya.
Ia pun mengajak para delegasi muda menjadikan kolaborasi, kepedulian, dan semangat gotong royong sebagai modal utama dalam membangun kota yang lebih tangguh di masa depan.
Sebagai penutup, Illiza menyerahkan buku “Jejak Langkah Illiza di Tengah Banjir Sumatera” kepada seluruh peserta YCC. Buku tersebut memuat pengalaman kepemimpinannya dalam menghadapi bencana dan membangun solidaritas antardaerah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketangguhan masyarakat.









Discussion about this post