MASAKINI.CO – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh menilai potensi fenomena El Nino pada 2026 perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi kinerja perekonomian Aceh, terutama akibat tingginya ketergantungan daerah terhadap sektor pertanian.
Kepala OJK Provinsi Aceh, Daddi Peryoga, mengatakan sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar perekonomian Aceh. Karena itu, gangguan terhadap produksi pertanian akibat perubahan iklim berpotensi berdampak pada aktivitas ekonomi daerah.
“Pertanian merupakan sektor utama yang menopang ekonomi Aceh. Karena itu, berbagai risiko yang dapat memengaruhi produktivitas sektor ini, termasuk perubahan iklim, perlu diantisipasi bersama,” kata Daddi, Kamis (9/7/2026).
Berdasarkan data OJK yang mengolah informasi dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 32,74 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh pada 2025. Selain itu, sekitar 41,39 persen tenaga kerja di Aceh bekerja di sektor tersebut.
Sementara itu, mengacu pada proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat potensi terjadinya fenomena El Nino pada 2026 yang dapat memengaruhi pola curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
OJK menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak pada produksi komoditas pertanian, pendapatan petani, pasokan pangan, hingga memengaruhi inflasi, yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi daerah.
Data BPS juga menunjukkan luas panen padi di Aceh pada 2025 mencapai 283,18 ribu hektare dengan produksi sekitar 1,62 juta ton gabah kering giling (GKG). Namun, luas panen tersebut turun 5,98 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara luas panen jagung tercatat 8,46 ribu hektare atau turun 16,20 persen secara tahunan.
Menurut Daddi, pengelolaan risiko perubahan iklim memerlukan sinergi berbagai pihak agar dampaknya terhadap sektor riil maupun stabilitas ekonomi dapat diminimalkan.
“OJK akan terus memantau berbagai risiko yang dapat memengaruhi stabilitas sektor jasa keuangan, termasuk risiko yang berasal dari kondisi ekonomi maupun perubahan iklim,” ujarnya.
Ia menambahkan, upaya mitigasi terhadap dampak El Nino menjadi tanggung jawab lintas sektor, sehingga diperlukan koordinasi antara pemerintah, otoritas terkait, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga ketahanan ekonomi Aceh.








Discussion about this post