MASAKINI.CO – Perekonomian Aceh menunjukkan pertumbuhan positif pada Triwulan I 2026 dengan capaian 4,09 persen secara year on year (yoy). Meski masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh menilai sejumlah sektor mulai menjadi penggerak baru, terutama konstruksi dan informasi komunikasi.
Asisten Direktur OJK Provinsi Aceh, Firman Octo Armando, mengatakan pertumbuhan ekonomi Aceh masih menghadapi tantangan untuk mengejar laju nasional yang pada periode sama mencapai 5,61 persen. Namun, sejumlah indikator menunjukkan aktivitas ekonomi daerah terus bergerak.
“Ekonomi Aceh pada Triwulan I 2026 tumbuh 4,09 persen secara year on year. Angka ini masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen, namun sejumlah indikator menunjukkan kondisi ekonomi Aceh terus membaik, termasuk peningkatan aktivitas pada sektor-sektor produktif,” ujar Firman Octo Armando, Kamis (8/7/2026).
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan dalam paparan OJK Aceh, tingkat kemiskinan Aceh juga menunjukkan penurunan. Pada September 2025, persentase penduduk miskin tercatat 12,22 persen atau sekitar 703,33 ribu jiwa, turun dibandingkan Maret 2025 yang berada pada angka 12,33 persen.
Dari sisi struktur ekonomi, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh dengan kontribusi 31,70 persen. Sementara sektor perdagangan besar dan eceran menyumbang 15,92 persen, administrasi pemerintahan 8,99 persen, konstruksi 8,72 persen, serta transportasi dan pergudangan 6,53 persen.
Meski bukan penyumbang terbesar PDRB, sektor konstruksi menjadi sektor dengan pertumbuhan paling tinggi pada Triwulan I 2026, yakni mencapai 15,95 persen. Sektor informasi dan komunikasi juga tumbuh 13,54 persen, disusul penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 13,54 persen.
Dari sisi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh, sektor konstruksi menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,36 persen, kemudian perdagangan besar dan eceran sebesar 1,27 persen, administrasi pemerintahan 0,65 persen, informasi dan komunikasi 0,20 persen, serta transportasi dan pergudangan 0,07 persen.
Firman menyebut perkembangan tersebut menunjukkan adanya pergeseran sumber pertumbuhan ekonomi Aceh. Sektor pertanian masih menjadi fondasi utama, namun sektor konstruksi dan ekonomi digital mulai memberikan dorongan yang semakin besar.
“Pertanian tetap menjadi penyumbang terbesar PDRB Aceh. Namun, sektor konstruksi serta informasi dan komunikasi kini menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan aktivitas ekonomi yang perlu terus didorong agar pertumbuhan Aceh semakin kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Menurutnya, penguatan sektor produktif perlu terus didukung dengan akses pembiayaan dan ekosistem keuangan yang sehat agar pertumbuhan ekonomi dapat memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.









Discussion about this post