MASAKINI.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh mendeteksi 19 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah Aceh. Titik panas tersebut terpantau berdasarkan pemantauan satelit pada 26 Juli 2026.
Forecaster On Duty BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Firtriana Nur, mengatakan titik panas tersebut terdeteksi melalui sensor MODIS dari Satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, serta NOAA20/VIIRS.
“Total ada 19 titik panas yang terpantau di beberapa wilayah Aceh,” kata Firtriana, Senin (27/7/2026).
Kabupaten Aceh Besar menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 11 titik yang tersebar di Kecamatan Indrapuri dan Kuta Cot Glie. Dari jumlah tersebut, satu titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, sementara 10 titik lainnya berada pada tingkat kepercayaan sedang.
Selain Aceh Besar, BMKG juga mendeteksi tiga titik panas di Kabupaten Aceh Utara, tepatnya Kecamatan Langkahan. Sementara dua titik panas masing-masing ditemukan di Kota Banda Aceh yang berada di Kecamatan Banda Raya dan Jaya Baru serta Kabupaten Pidie di Kecamatan Mutiara Timur.
Satu titik panas lainnya terpantau di Kabupaten Bireuen, tepatnya Kecamatan Jeunieb.
Meski terdapat temuan sejumlah titik panas, BMKG memperkirakan kondisi cuaca Aceh dalam tiga hari ke depan relatif tidak berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang di sebagian besar wilayah.
Firtriana menjelaskan, kondisi atmosfer Aceh saat ini dipengaruhi oleh aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby, daerah belokan angin, serta konvergensi yang dapat mendukung pertumbuhan awan konvektif. Selain itu, suhu muka laut yang hangat di perairan barat dan selatan Sumatera turut meningkatkan kandungan uap air di atmosfer.
“Untuk periode 27 hingga 29 Juli 2026, secara umum wilayah Aceh tidak berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang. Potensi tersebut hanya diprakirakan terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara pada 28 Juli 2026,” ujarnya.
Kendati demikian, BMKG tetap mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama pada sore hingga malam hari.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan juga diminta berhati-hati terhadap potensi dampak cuaca seperti angin kencang, banjir, maupun tanah longsor apabila terjadi perubahan kondisi atmosfer.
“Pemanasan pada siang hari dapat memicu hujan secara tiba-tiba pada sore hingga malam hari. Masyarakat tetap perlu waspada saat beraktivitas di luar ruangan,” kata Firtriana.










Discussion about this post