MASAKINI.CO — Kerja sama akademik antara Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh dan Universiti Sains Islam Malaysia (USIM) terus bergerak dari hubungan kelembagaan menuju kolaborasi penelitian yang konkret. Salah satu bentuknya terlihat dalam presentasi hasil penelitian kolaboratif bidang Filologi Arab-Melayu yang digelar di USIM, Rabu (2/9/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry serta Program Bahasa Arab dan Kesusasteraan Islam, Fakulti Pengajian Bahasa Utama (FPBU) USIM.
Dari UIN Ar-Raniry, penelitian melibatkan Assoc. Prof. Dr. Zulkhairi Sofyan, sementara dari USIM melibatkan Prof. Dr. Rosni Samah. Kolaborasi diarahkan pada penguatan penelitian manuskrip Arab-Melayu, naskah Jawi, serta khazanah intelektual Islam di kawasan Melayu-Nusantara.
Dari Kerja Sama Kelembagaan Menjadi Kolaborasi Riset
Presentasi hasil penelitian menjadi bukti bahwa kerja sama perguruan tinggi dapat diterjemahkan ke dalam aktivitas akademik yang menghasilkan pengetahuan baru.
“Tidak hanya melalui pertemuan formal, hubungan kedua institusi berkembang melalui diskusi ilmiah, penelitian bersama, penelusuran koleksi manuskrip, bedah naskah, presentasi hasil riset, hingga peluang publikasi bersama,” ujar Zulkhairi.
Ketua Program Bahasa Arab dan Kesusasteraan Islam FPBU USIM, Dr. Mohd. Adi Amzar Muhammad Nawawi, turut mendorong agar hubungan akademik kedua institusi dikembangkan melalui kegiatan yang konkret dan berkelanjutan.
“Kolaborasi tersebut membuka peluang untuk mengembangkan seminar internasional, kuliah tamu, pertukaran kepakaran, publikasi bersama, pelibatan mahasiswa, serta penelitian lintas disiplin,” terang Adi Amzar.
Filologi sebagai Jembatan Aceh–Malaysia
Kajian Filologi Arab-Melayu memiliki posisi strategis karena sejarah perkembangan Islam di Aceh dan Malaysia tidak dapat dilepaskan dari jaringan intelektual Melayu-Nusantara.
Bahasa Melayu, aksara Jawi, tradisi keilmuan Islam, jaringan ulama, dan kesusasteraan berkembang melintasi batas geografis yang kini menjadi batas negara. Manuskrip menjadi salah satu bukti penting dari keterhubungan tersebut.
“Karena itu penelitian lintas negara memungkinkan akademisi membandingkan manuskrip yang tersimpan di berbagai lokasi sekaligus mengidentifikasi hubungan antarteks, variasi penyalinan, perkembangan bahasa, dan persebaran gagasan keagamaan,” ujar Dosen Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry Zulkhairi.
Menuju Jejaring Filologi Melayu-Nusantara
Kolaborasi UIN Ar-Raniry dan USIM selanjutnya diharapkan berkembang menuju pembentukan jejaring Filologi Melayu-Nusantara.
Jejaring tersebut penting karena manuskrip Melayu-Islam tidak hanya tersimpan di satu negara. Koleksi manuskrip tersebar di perpustakaan, museum, lembaga pendidikan, pusat penelitian, maupun koleksi masyarakat di berbagai wilayah.
Pertukaran data dan pengalaman penelitian antarlembaga akan membantu para akademisi melihat khazanah tersebut secara lebih komprehensif.
Melalui jejaring akademik, penelitian tidak berhenti pada upaya membaca dan mendokumentasikan manuskrip, tetapi dapat dikembangkan menjadi publikasi ilmiah, bahan pembelajaran, digitalisasi, dan berbagai bentuk pemanfaatan akademik lainnya.
Dorong Publikasi dan Internasionalisasi Akademik
Salah satu arah pengembangan kerja sama adalah menghasilkan luaran akademik yang dapat menjangkau komunitas ilmiah internasional.
Zulkhairi menyebutkan, hasil penelitian bersama dapat dikembangkan menjadi artikel jurnal, buku referensi, prosiding, bahan pembelajaran, hingga pengembangan metode praktikum filologi.
“Kerja sama ini sekaligus mendukung upaya internasionalisasi akademik kedua perguruan tinggi melalui bidang keilmuan yang memiliki akar kuat dalam sejarah dan budaya kedua negara,” sambungnya.
Ia menerangkan, bagi UIN Ar-Raniry dan USIM, kajian manuskrip tidak hanya menjadi ruang untuk membaca masa lalu, tetapi juga menjadi sarana membangun kerja sama akademik untuk masa depan.
Menghidupkan Kembali Khazanah Intelektual Melayu-Islam
Presentasi penelitian di USIM pada 2 September 2026 menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan kerja sama UIN Ar-Raniry dan USIM.
Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa kekayaan manuskrip Melayu-Islam dapat menjadi titik temu bagi akademisi dari berbagai negara untuk bekerja bersama, bertukar pengetahuan, dan menghasilkan kajian yang lebih luas.
Ke depan, kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan akademik Aceh–Malaysia, tetapi juga berkontribusi dalam membangun ekosistem penelitian dan pelestarian manuskrip di tingkat Melayu-Nusantara.
“Pada akhirnya, penguatan jejaring Filologi Melayu-Nusantara bukan semata-mata tentang menjaga peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan ikhtiar untuk menghidupkan kembali pengetahuan, gagasan, dan jaringan intelektual yang pernah menghubungkan masyarakat Islam di kawasan Melayu-Nusantara,” tutup Zulkhairi.










Discussion about this post