MASAKINI.CO – Ketergantungan Aceh terhadap pasokan kedelai dari luar daerah mendorong pengembangan kacang koro pedang sebagai alternatif bahan baku tempe. Pemanfaatan komoditas lokal tersebut dinilai dapat membantu menekan biaya produksi sekaligus memperkuat kemandirian usaha perajin tempe.
Sekitar 90 persen kebutuhan kedelai di Aceh selama ini dipasok dari luar provinsi. Kondisi tersebut membuat perajin tempe rentan terdampak fluktuasi harga bahan baku, yang pada akhirnya dapat memengaruhi biaya produksi dan keberlangsungan usaha mereka.
Pengembangan kacang koro pedang sebagai alternatif bahan baku tempe dilakukan PT Solusi Bangun Andalas bersama Rumoh Pangan Aceh (RPA) melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Program tersebut mendorong masyarakat di Desa Nagaumbang untuk membudidayakan komoditas pangan lokal yang memiliki potensi ekonomi.
Direktur PT Solusi Bangun Andalas, Edi Sarwono, mengatakan pengembangan kacang koro pedang merupakan upaya bersama untuk menjawab persoalan bahan baku sekaligus mengoptimalkan potensi lokal.
“Bagi kami, pemberdayaan masyarakat bukan sekadar menghadirkan bantuan, tetapi bagaimana bersama-sama menemukan solusi atas tantangan yang dihadapi masyarakat. Melalui revitalisasi kacang koro pedang, kami ingin mendorong pemanfaatan potensi pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah, serta membuka peluang usaha yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Edi.
Menurut perusahaan, kacang koro pedang memiliki biaya pokok produksi lebih rendah dan produktivitas lahan lebih baik dibandingkan kedelai. Penggunaannya sebagai bahan baku tempe juga berpotensi mengurangi biaya produksi perajin hingga 15 persen.
Selain aspek efisiensi, budidaya kacang koro pedang di wilayah setempat diharapkan dapat memperkuat ketersediaan bahan baku bagi pelaku usaha pangan. Penggunaan bahan baku lokal juga berpotensi mengurangi emisi dari transportasi pasokan yang selama ini didatangkan dari luar provinsi.
Program bertajuk Keberhasilan Merevitalisasi Kearifan Lokal Koro Meusyahu tersebut dikembangkan melalui PENDEKAR, singkatan dari Pelestarian Pangan Lokal, Eksistensi, Nilai Adat, dan Eratnya Kohesi Sosial, Komunitas Lingkar Tambang, Revitalisasi Mandiri Gampong.
Atas inisiatif tersebut, PT Solusi Bangun Andalas bersama RPA menerima Apresiasi Minerba kategori Badan Usaha Pertambangan Komoditas Mineral dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta pada 3 November 2026.
Pengembangan program ini tidak hanya diarahkan pada budidaya kacang koro pedang, tetapi juga pembentukan ekosistem pangan lokal yang melibatkan petani, kelompok pengolah pangan, dan pelaku usaha. Dengan demikian, komoditas tersebut diharapkan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Perusahaan berharap pengembangan kacang koro pedang dapat menjadi model pemanfaatan pangan lokal yang diterapkan di wilayah lain, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan penguatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.








Discussion about this post