MASAKINI.CO – Masyarakat Aceh diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada 9–12 November 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan Aceh dalam status SIAGA di tengah dinamika atmosfer yang masih memungkinkan terjadinya cuaca ekstrem.
Peringatan tersebut disampaikan BMKG dalam pembaruan informasi cuaca pada Jumat (6/11/2026). Selain Aceh, status SIAGA juga berlaku untuk Sumatra Barat, sedangkan Sumatra Utara ditetapkan berstatus AWAS karena berpotensi mengalami hujan sangat lebat hingga ekstrem.
Prakirawan BMKG, Sentia, menjelaskan fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif masih memengaruhi atmosfer Indonesia. Namun, kedua fenomena tersebut tidak menghilangkan potensi hujan deras di sejumlah wilayah.
“Aktivitas gelombang atmosfer tersebut, ditambah adanya pertemuan dan perlambatan angin serta kelembapan udara yang tinggi, mendukung pertumbuhan awan hujan konvektif di sejumlah wilayah,” ungkapnya.
Potensi hujan ekstrem sebelumnya juga terlihat pada periode 1–4 November 2026. BMKG mencatat curah hujan harian mencapai 167 milimeter di Aceh, 358 milimeter di Jawa Timur, dan 300 milimeter di Bali. Kondisi ini menunjukkan hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi meskipun Indonesia dipengaruhi fenomena iklim yang berkaitan dengan kondisi kering.
Untuk periode 6–8 November, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia didominasi hujan ringan. Namun, hujan lebat hingga sangat lebat masih berpotensi terjadi di Aceh, Jawa Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Potensi angin kencang juga perlu diwaspadai di Lampung, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.
Memasuki periode 9–12 November, kewaspadaan terhadap hujan lebat meningkat di wilayah Sumatra. Selain Sumatra Utara yang berstatus AWAS, Aceh dan Sumatra Barat masuk kategori SIAGA untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat.
BMKG menjelaskan, pertumbuhan awan hujan dipengaruhi aktivitas sejumlah gelombang atmosfer, termasuk Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin. Aktivitas tersebut, bersama kondisi kelembapan udara yang tinggi serta pertemuan dan perlambatan angin, dapat mendukung terbentuknya hujan dengan intensitas tinggi.
Di sisi lain, ancaman kekeringan masih terjadi di sejumlah wilayah. BMKG mencatat 543 titik pengamatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori sangat panjang hingga ekstrem panjang. Pemantauan juga menunjukkan ratusan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Papua Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai perubahan cuaca mendadak, terutama hujan deras berdurasi singkat yang dapat disertai angin kencang, kilat, dan petir. Warga yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor diminta meningkatkan kesiapsiagaan.
Masyarakat juga diimbau membersihkan saluran air serta memeriksa kondisi pohon dan bangunan yang berpotensi terdampak angin kencang. Perkembangan informasi cuaca dapat dipantau melalui aplikasi Info BMKG, laman resmi BMKG, dan media sosial @infobmkg.









Discussion about this post