MASAKINI.CO
No Result
View All Result
Sabtu, Oktober 3, 2026
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Beranda
  • News
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
MASAKINI.CO
Home News

WALHI Aceh: Banjir Besar di Aceh Bencana Ekologis dari Kerusakan Terencana

Riska Zulfira by Riska Zulfira
29 November 2025
in News
0

Aris deras banjir di salah satu wilayah di Aceh. | Foto : Ist

Share on FacebookShare on Twitter

MASAKINI.CO – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menyebut banjir besar yang melanda 16 kabupaten dalam sepekan terakhir sebagai alarm keras dari investasi yang tidak ramah lingkungan.

WALHI menegaskan bahwa kerusakan hulu akibat aktivitas tambang, ekspansi perkebunan, hingga galian C yang tidak terkendali menjadi faktor utama yang memicu banjir beruntun di Aceh.

RelatedPosts

Perceraian di Banda Aceh Tembus 300 Perkara, DPRK Ingatkan Pentingnya Ketahanan Keluarga

Harga Emas Perhiasan Bertahan,  Antam Kembali Turun

Empat Mahasiswa UIN Ar-Raniry Sapu Empat Emas di PKM PTKIN Se-Sumatera

Direktur WALHI Aceh, Ahmad Shalihin, menyampaikan bahwa bencana yang terjadi bukan sekadar akibat curah hujan tinggi, tetapi merupakan dampak dari investasi yang tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan.

“Banjir ini bukan fenomena alam biasa. Ini buah dari investasi yang hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi mengabaikan keselamatan ekologis. Hulu rusak, sungai dangkal, dan masyarakat menjadi korban,” kata Shalihin, Sabtu (29/11/2025).

Menurut WALHI Aceh, kerusakan terparah terjadi pada sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) besar seperti DAS Krueng Peusangan yang memengaruhi Bireuen dan Aceh Utara.

Kerusakan vegetasi penyangga telah membuat hujan deras dalam durasi singkat langsung berubah menjadi limpasan besar yang memicu banjir.

“Ekspansi perkebunan, tambang, dan pembalakan liar membuat hutan hulu kehilangan kemampuan menahan air. Sungai dipenuhi sedimentasi dari galian C sehingga begitu hujan turun, air langsung meluap,” jelasnya.

Shalihin menilai kondisi ini merupakan bukti bahwa pembangunan berbasis investasi tanpa kontrol ketat justru melemahkan fungsi ekologis wilayah tersebut.

WALHI Aceh juga menemukan bahwa aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dalam dua tahun terakhir meningkat drastis di kawasan hulu.

Aktivitas ini merusak struktur tanah, membuka kawasan baru tanpa izin, dan menggali tebing sungai hingga menyebabkan longsor serta banjir lumpur.

“Hampir seluruh aktivitas PETI berada di hulu DAS. Mesin-mesin berat itu menghancurkan bukit dan membentuk jalur air baru yang tidak terkendali. Dampaknya langsung terasa ketika banjir melanda,” ujar Shalihin.

WALHI Aceh menilai pemerintah masih menempatkan investasi ekonomi sebagai prioritas utama, tetapi gagal memastikan keberlanjutannya. Banyak izin tambang dan perkebunan dinilai tidak dibarengi dengan pengawasan, audit lingkungan, maupun penegakan hukum.

“Pemerintah terlalu fokus pada proyek fisik seperti tanggul dan normalisasi sungai. Padahal akar persoalannya ada pada tata kelola investasi yang tidak berkelanjutan,” kata Shalihin.

Ia menambahkan bahwa selama pemerintah hanya membangun infrastruktur penahan air tanpa menghentikan kerusakan hulu, banjir akan terus menghantui Aceh.

Untuk mencegah bencana serupa terulang, WALHI Aceh menuntut pemerintah untuk menerapkan moratorium izin baru perkebunan dan tambang, menghentikan galian C ilegal di sepanjang sungai, menindak tegas aktor besar PETI, melakukan audit lingkungan menyeluruh terhadap semua izin aktif
Memulihkan kawasan hulu yang telah rusak

Shalihin menegaskan bahwa keselamatan warga harus lebih diutamakan dibanding peningkatan angka investasi jangka pendek.

“Keuntungan ekonomi tidak boleh dibayar dengan banjir yang merendam rumah, merusak fasilitas publik, dan membuat ribuan orang mengungsi. Aceh butuh investasi yang berkelanjutan, bukan yang merusak,” ujarnya.

Tags: Banjir AcehBanjir BandangLongsorWalhi Aceh
Previous Post

Dilaporkan Hilang, Santri Dayah Mudi Samalanga Ditemukan Meninggal Dunia

Next Post

Logistik Tipis, Penjarahan Mulai Terjadi di Aceh Tamiang

Related Posts

Daerah Rawan Banjir di Aceh Diusulkan Dapat Alat Berat Sistem Pinjam Pakai

by Ahmad Mufti
2 Oktober 2026
0

MASAKINI.CO – Pemerintah kabupaten/kota yang rawan banjir di Aceh diusulkan mendapat alat berat dengan skema pinjam pakai agar penanganan bencana dapat...

10 Bulan Terputus, Jembatan Permanen Kutablang Akhirnya Beroperasi

by Riska Zulfira
20 September 2026
0

MASAKINI.CO - Setelah sekitar 10 bulan terputus akibat banjir besar, Jembatan Krueng Tingkeum di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, akhirnya kembali...

AICRF Minta Kesiapsiagaan Bencana Aceh Diperkuat Jelang Puncak Hujan Oktober-Desember

by Redaksi
18 September 2026
0

MASAKINI.CO – Yayasan Ketangguhan Komunitas Aceh Indonesia (AICRF) meminta pemerintah daerah di Aceh memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi peningkatan curah hujan...

Next Post

Logistik Tipis, Penjarahan Mulai Terjadi di Aceh Tamiang

Sempat Melonjak Hingga Rp90 Ribu per Papan, Telur Ras Kosong di Pasaran

Discussion about this post

CERITA

PFI Malang Rekam Cerita di Balik Pangan Lewat Pameran Foto

25 September 2026

Dari Teras Rumah, Nova Mengubah Hobi Memotret Makanan Jadi Profesi

16 September 2026

Jumadin Bawa Kupiah Meukeutop Aceh Menatap Pasar Dunia

25 Agustus 2026

Dari Banda Aceh ke Pelosok Papua, Reza Mencari Potensi yang Tersembunyi di Teluk Wondama

12 Agustus 2026

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy

Copyright © 2025 - masakini.co

No Result
View All Result
  • Daerah
  • News
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Cerita
  • Foto
  • Video

Copyright © 2025 - masakini.co