MASAKINI.CO – Derasnya arus sungai di Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, kini menggantikan suara kendaraan yang biasanya lalu-lalang di Jalan Lintas Sumatra. Sejak 27 November 2025, jembatan utama di jalur vital itu putus total. Aspal yang dulu menghubungkan wilayah kini terhenti di tepi sungai.
Tak ada roda dua, tak ada roda empat. Yang tersisa hanya air keruh yang mengalir deras dan upaya manusia untuk tetap saling terhubung.
Saban hari, Muhammad Akbar berdiri di tepi sungai. Saat matahari baru terbit, ia sudah bersiap. Dua boat miliknya perlahan diturunkan ke air. Bukan untuk mencari ikan, tapi menjadi jalan darurat bagi warga yang ingin melintas. Sejak hari kedua pascabencana, Akbar membuka jasa penyeberangan yang beroperasi dari pagi hingga matahari tenggelam.
Sebelum bencana, tempat ini hanyalah tumpukan batu gunung di tepi sungai. Kini, ia menjelma menjadi simpul kehidupan. Di atas arus yang deras dan tak menentu, perahu-perahu Akbar menjadi penghubung sementara rapuh, berisiko, namun sangat berarti bagi mereka yang harus terus melintas demi hidup yang berjalan.
Penyeberangan ini jauh dari kata mudah. Sungai Kuta Blang dikenal berarus kuat, sementara kedua sisi tebingnya curam dan licin. Sepeda motor tak bisa langsung masuk ke perahu.
Setiap kendaraan harus diturunkan perlahan dari atas tebing, diangkat ramai-ramai, lalu ditata hati-hati di atas boat. Dalam satu kali perjalanan, perahu Akbar biasanya mengangkut enam sepeda motor. Jika arus menguat, jumlahnya dikurangi menjadi tiga motor demi keselamatan. Saat air pasang dan relatif tenang, kadang bisa delapan motor, meski tak pernah dipaksakan.
“Hampir tiap hari arusnya kuat, jadi kita mesti berhati-hati,” kata Akbar, Sabtu (20/12/2025).
Dalam sehari, puluhan hingga hampir 100 sepeda motor menyeberang lewat jalur air ini. Semua itu ditopang oleh tenaga manusia. Akbar melibatkan sekitar 30 orang, masing-masing 15 orang di dua sisi sungai.
Mereka berjibaku mengangkat motor satu per satu, menjaga keseimbangan, menahan beban, dan melawan licinnya tanah. Untuk setiap motor, para pekerja ini dibayar Rp15.000 per orang, sehingga total biaya jasa mencapai Rp30.000 hanya untuk proses naik-turun kendaraan.
Tak heran jika tarif penyeberangan ditetapkan Rp70.000 per motor dengan satu pengendara. Angka ini kerap dipersoalkan. Namun bagi Akbar, itu adalah hitung-hitungan realistis.
“Kalau di bawah itu, kami tak bisa bayar orang. Medannya berat. Salah sedikit, motor bisa jatuh ke sungai,” katanya.
Risiko memang selalu mengintai. Arus sungai yang berubah cepat, bobot kendaraan, hingga kemungkinan kecelakaan. Pernah satu motor rusak saat proses penyeberangan. Akbar menggantinya tanpa banyak bicara.
“Risiko besar, tapi jarang yang melihat itu,” ujarnya.
Di balik jasa ini, biaya terus berjalan. Satu perahu miliknya menghabiskan satu jerigen solar untuk dua hari. Harga solar yang dulu Rp350 ribu, kini melonjak menjadi Rp525 ribu akibat kelangkaan BBM pasca bencana.
Belum lagi biaya membuka akses jalan darurat, menyewa alat berat, dan perawatan. Satu boat besar bernilai Rp50 juta, satu lagi Rp13 juta. Ditambah biaya alat berat dan perbaikan akses sekitar Rp6 juta, total modal yang dikeluarkan mencapai Rp75 juta.
Semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa waktu mereka terbatas. Kini 24 hari pasca bencana, jembatan alternatif sedang dibangun. Ketika akses permanen kembali dibuka, jasa penyeberangan ini akan berhenti. Artinya, kesempatan Akbar untuk menutup modal juga ikut berakhir.
“Kami kejar waktu. Rata-rata belum balik modal,” katanya jujur.

Untuk bantuan kemanusiaan, Akbar memilih tak mengambil peran. Ia mengarahkan bantuan agar menggunakan boat yang disediakan pemerintah. Baginya, jasa ini bukan soal keuntungan semata, melainkan memastikan warga tetap bisa bergerak di tengah keterisolasian.
Namun disisi lapak Akbar, warga juga memanfaatkan jalur penyeberangan darurat tanpa kendaraan yang dibawa. Meski masih diliputi rasa khawatir, warga tetap memilih menyeberang demi bisa kembali ke kampung halaman atau melanjutkan perjalanan.
Seperti dilakukan seorang warga asal Lhokseumawe, Mona Syifa. Mahasiswi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh ini mengatakan penyeberangan tersebut menjadi pilihan setelah aktivitas perkuliahan diliburkan akibat kondisi pasca bencana yang belum stabil.
“Kuliah diliburkan karena listrik banyak padam dan situasinya juga belum memungkinkan. Jadi saya pulang ke Lhokseumawe,” ucapnya.
Mona mengaku ini adalah pengalaman pertamanya menyeberang melalui jalur darurat tersebut. Ia tidak menampik adanya rasa takut, terutama setelah mendengar kabar tentang warga yang sempat hanyut saat melintas.
“Takut pasti ada, apalagi dengar cerita begitu,” ujarnya.
Meski demikian, keberadaan petugas dan perlengkapan keselamatan di lokasi penyeberangan membuat warga merasa sedikit lebih tenang. Menurut Mona, setidaknya ada rasa aman karena penyeberangan tidak dilakukan tanpa pengawasan.
“Masih ada rasa waswas, tapi sudah lebih aman karena ada perlengkapan keselamatan,” katanya.
Hari itu, Mona menyeberang bersama seorang temannya dari Banda Aceh. Setelah tiba di seberang, ia akan dijemput orang tuanya untuk melanjutkan perjalanan pulang.
Untuk biaya penyeberangan, warga dikenakan tarif sebesar Rp10.000 per orang. Namun, terkait barang bawaan, Mona mengaku belum mengetahui apakah ada tambahan biaya.
“Harganya Rp10.000. Kalau barang belum sempat tanya,” ujarnya.
Penyeberangan darurat ini menjadi akses penting bagi warga di tengah terbatasnya jalur transportasi pasca bencana, meski kondisi di lapangan masih membutuhkan kewaspadaan ekstra.










Discussion about this post