MASAKINI.CO – Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi mengadakan rapat terbatas untuk membahas pelemahan nilai tukar rupiah di Wisma Negara, Jakarta Pusat. Rapat dihadiri Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur BI, Perry Warjiyo.
Purbaya menyatakan pembahasan difokuskan pada sinkronisasi kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah yang kini mendekati level Rp17.000 per dolar AS. “Saya akan benahi sisi fiskal dan perekonomian, sementara BI jaga nilai tukar,” ujarnya.
Perry Warjiyo menjelaskan pelemahan rupiah disebabkan faktor global dan domestik. Cadangan devisa negara masih cukup untuk stabilisasi ke depan. Hingga 19 Januari 2026, terjadi aliran modal keluar sebesar USD1,6 juta atau sekitar Rp25,2 miliar.
Faktor global yang memengaruhi antara lain kondisi geopolitik, kebijakan tarif resiprokal Trump, dan perpindahan modal dari negara berkembang ke maju. Hal ini menjadi bagian dari pembahasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI.
Pada kesempatan terpisah, Founder Bennix Investor Group, Benny Batara Tumpal Hutabarat menyatakan pelemahan rupiah disebabkan penjualan SRBI dan SBN hingga 650 juta dolar AS atau sekitar Rp10,05 triliun. Ia menyebut klaim tentang hedging 85 juta dolar AS tidak benar.
Menurut Benny, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen diperlukan sinkronisasi antara BI dan Kemenkeu. Ia menyarankan BI rate di bawah 4 persen dan SBDK wajib di bawah 8 persen untuk menekan suku bunga kredit.
“Kalau SBDK di bawah 8 persen, suku bunga kredit bisa turun ke 10 persen,” ujarnya. Ia memperkirakan hal ini bisa bawa pertumbuhan 6,5 persen dengan depresiasi rupiah 2-4 persen dan inflasi naik tipis 0,3-0,5 persen.
Benny menambahkan bahwa Vietnam pun rela mengalami pelemahan mata uang Dong hingga 15 persen dalam lima tahun terakhir untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.










Discussion about this post