MASAKINI.CO – Peluang perempuan untuk memimpin di dunia akademik kembali ditegaskan oleh Inayatillah. Di tengah dorongan transformasi kampus menuju level internasional, ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kapasitas dan kesiapan individu.
Menurutnya, regulasi yang berlaku saat ini telah membuka ruang yang setara bagi perempuan untuk menduduki posisi strategis di perguruan tinggi, termasuk dalam mendorong perubahan institusi.
“Perempuan punya peluang yang sama. Tinggal siapa yang mau dan siap mengambil kesempatan tersebut,” ujarnya di Banda Aceh, Rabu (1/4/2026).
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari komitmennya dalam mendorong transformasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh menjadi universitas Islam bereputasi global. Ia menilai, perubahan besar hanya bisa dicapai jika seluruh elemen kampus membuka ruang kepemimpinan yang inklusif dan berbasis kompetensi.
Inayatillah menjelaskan, visi menuju kampus kelas dunia harus dibangun di atas integrasi ilmu pengetahuan, syariat Islam, nilai kebangsaan, serta kearifan lokal. Menurutnya, identitas tersebut menjadi kekuatan utama yang membedakan UIN Ar-Raniry di kancah global.
“Motivasi utama saya adalah berkontribusi dalam pembangunan dan pengembangan kampus agar mampu bersaing di tingkat global,” katanya.
Dalam upaya mencapai visi tersebut, ia mengusung pendekatan keberlanjutan dan inovasi. Program-program yang telah berjalan baik akan dilanjutkan, sementara aspek yang masih lemah akan diperbaiki secara bertahap.
“Yang sudah baik kita lanjutkan, yang belum optimal kita perbaiki. Di saat yang sama, kita siapkan program baru yang lebih inovatif,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya semangat kerja yang dilandasi dedikasi dan keikhlasan. Menurutnya, transformasi kampus tidak hanya soal kebijakan, tetapi juga tentang komitmen bersama dalam membangun institusi.
Adapun visi yang diusung adalah menjadikan UIN Ar-Raniry Banda Aceh sebagai universitas Islam bereputasi global yang unggul dalam integrasi ilmu, syariat Islam, kebangsaan, dan kearifan lokal, serta mampu mendorong terciptanya masyarakat yang rukun dan maslahat.
Namun, ia menegaskan bahwa target tersebut tidak bisa dicapai secara individual. Dibutuhkan kolaborasi seluruh sivitas akademika untuk mewujudkan perubahan yang berkelanjutan.
“Ini kerja bersama. Dengan kolaborasi, inovasi, dan komitmen, kita optimistis kampus ini bisa diakui secara global,” katanya.
Inayatillah juga menggarisbawahi pentingnya menghadirkan semangat “bekerja dengan cinta” dalam setiap langkah pengembangan kampus. Pendekatan ini dinilai mampu memperkuat integritas, tanggung jawab, serta kualitas kerja dalam mencapai tujuan bersama.










Discussion about this post