MASAKINI.CO – Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, menegaskan ancaman serius terhadap keberlangsungan bahasa Aceh yang kian ditinggalkan generasi muda. Pemerintah daerah kini menyiapkan langkah konkret dengan mewajibkan penggunaan bahasa Aceh di sekolah.
Pernyataan itu disampaikan Syech Muharram saat membuka Seminar Meuseuraya Adat di Darul Imarah, Minggu (3/5/2026). Ia menyebut, bahasa Aceh bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas yang menentukan jati diri masyarakat.
“Kalau bahasa Aceh hilang, itu artinya kita gagal menjaga identitas,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, terjadi pergeseran penggunaan bahasa yang cukup tajam antar generasi. Generasi lama masih menggunakan bahasa Aceh secara penuh, sementara generasi sekarang justru lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia.
Kondisi paling mengkhawatirkan terlihat pada anak-anak saat ini. Mereka umumnya hanya memahami bahasa Aceh, tetapi tidak mampu menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
“Anak-anak sekarang lebih banyak pakai bahasa Indonesia. Bahasa Aceh hanya dipahami, tapi tidak bisa dipakai,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkab Aceh Besar merancang program penggunaan bahasa Aceh selama tiga hari dalam sepekan di lingkungan sekolah. Langkah ini ditargetkan menjadi upaya konkret untuk mengembalikan penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda.
“Kita harap anak-anak bisa kembali menggunakan bahasa Aceh dan melestarikannya,” kata Muharram.
Selain bahasa, ia juga menyoroti lemahnya pemahaman masyarakat terhadap penerapan hukum adat dan syariat, termasuk dalam praktik gadai-menggadai yang dinilai masih banyak keliru.
Ia mendorong penguatan kegiatan beut kitab di tingkat gampong dan mukim, khususnya bagi para pengambil kebijakan desa, guna memperkuat nilai-nilai keislaman dan adat dalam kehidupan masyarakat.
“Kalau pemahaman kuat, kita bisa bangun pageu gampong untuk menjaga masyarakat dari pengaruh negatif,” ujarnya.
Di akhir, Muharram menegaskan komitmen pemerintah untuk mengembalikan identitas masyarakat Aceh Besar sebagai generasi yang kuat dalam adat dan budaya.
“Kita ingin generasi ke depan tetap berakar pada adat dan budaya Aceh,” pungkasnya.









Discussion about this post