MASAKINI.CO – Hantaran sirih atau ranup yang selama ini identik dengan tradisi sakral dalam budaya Aceh kini mulai mengalami sentuhan modern. Hal ini dibahas dalam seminar meususon ranup yang digelar di Aula Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Sabtu (2/5/2026).
Dalam pemaparannya, perwakilan UMKM Ranup Aceh, Ulfa, menjelaskan bahwa sirih telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun yang digunakan dalam berbagai prosesi adat, khususnya dalam acara pertunangan dan pernikahan.
“Sirih ini sudah ada sejak masa nenek moyang kita, biasanya dibawakan ketika ingin ngunduh mantu. Begitu sampai mempelai pria ke rumah pengantin wanita, ada budaya pergantian sirih oleh orang tua,” ujarnya.
Namun seiring perkembangan zaman, hantaran sirih kini tidak lagi terbatas pada bentuk dan bahan tradisional. Ulfa menyebutkan bahwa inovasi mulai dilakukan agar tetap relevan dengan selera generasi masa kini.
“Hantaran ini bisa kita rangkai semodern mungkin, sekarang sudah kita gunakan bunga segar agar lebih tahan, tidak lagi bunga-bunga seurunai atau bunga melati,” jelasnya.
Selain penggunaan bahan, bentuk hantaran juga mengalami perkembangan. Jika sebelumnya hanya dikenal dalam bentuk khas seperti kupiah Aceh atau pintoe Aceh, kini variasinya semakin beragam.
“Sekarang bukan hanya bentuk kupiah Aceh atau pintoe Aceh saja, tapi juga bisa kita buat jadi bentuk menara kembar agar lebih modern,” tambah Ulfa.
Melalui inovasi ini, hantaran sirih diharapkan tetap menjadi bagian dari tradisi Aceh, namun dengan tampilan yang lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan makna budayanya.






Discussion about this post