MASAKINI.CO – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dinilai mulai memasuki fase serius dan tidak lagi hanya dipicu faktor eksternal seperti harga minyak dunia maupun arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Kondisi tersebut kini disebut telah menyentuh persoalan fundamental, terutama terkait kredibilitas kebijakan makroekonomi nasional.
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai Bank Indonesia perlu segera mengambil langkah kebijakan yang lebih hawkish dan pre-emptive untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan kepercayaan pasar.
“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor itu sendiri,” ujar Fakhrul, mengutip infopublik, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, pasar mulai mempertanyakan arah stabilisasi rupiah, pengendalian inflasi, hingga koordinasi fiskal dan moneter pemerintah. Jika tidak direspons dengan langkah kebijakan yang kuat, biaya stabilisasi ekonomi dikhawatirkan akan semakin mahal di masa mendatang.
Fakhrul menilai minimnya sinyal penyesuaian kebijakan terkait harga energi domestik, subsidi, dan arah fiskal membuat tekanan penyesuaian akhirnya lebih banyak ditanggung oleh nilai tukar rupiah.
Dalam kondisi arus modal terbuka, situasi tersebut dinilai berpotensi memicu fenomena Dornbusch overshooting, yakni pelemahan nilai tukar yang bergerak lebih dalam akibat tekanan ekspektasi pasar.
Karena itu, ia mendorong Bank Indonesia kembali menggunakan pendekatan stabilisasi klasik berupa “Pre-emptive, Front Loading, and Ahead the Curve” seperti yang pernah diterapkan saat tekanan eksternal pada 2018.
Dalam konteks saat ini, langkah tersebut diperkirakan membutuhkan kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin.
“Kenaikan suku bunga kali ini bukan karena ekonomi runtuh atau inflasi sudah tinggi. Justru ini diperlukan agar kita tidak membayar harga yang lebih mahal di kemudian hari akibat kehilangan jangkar ekspektasi,” katanya.
Ia menegaskan, bank sentral di negara berkembang tidak bisa hanya berpatokan pada data inflasi yang bersifat backward-looking, tetapi juga harus menjaga ekspektasi pasar, stabilitas nilai tukar, dan kredibilitas kebijakan jangka menengah.
“Kalau menunggu inflasi muncul penuh di data, biasanya pasar sudah lebih dulu memaksa penyesuaian yang jauh lebih keras,” ujarnya.
Di sisi lain, Fakhrul menilai kenaikan suku bunga tidak selalu identik dengan tekanan besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, Indonesia masih memiliki instrumen makroprudensial yang cukup fleksibel untuk menjaga penyaluran kredit ke sektor prioritas.
“Ini bukan kebijakan anti-pertumbuhan. Ini adalah upaya menjaga stabilitas makro agar pertumbuhan tidak rusak lebih dalam akibat imported inflation, tekanan neraca, dan lonjakan risk premium,” tegasnya.
Ia juga menilai kebijakan hawkish Bank Indonesia dapat membantu memperbaiki struktur pasar keuangan domestik, terutama untuk mendorong normalisasi pasar obligasi tenor panjang.
Saat ini, aliran dana disebut masih terlalu terkonsentrasi pada instrumen jangka pendek seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sehingga kurva imbal hasil dinilai belum sehat.
“Kita membutuhkan yield curve yang lebih sehat dan lebih steep. Kalau kredibilitas BI pulih dan volatilitas rupiah mulai turun, investor bisa kembali masuk ke obligasi tenor panjang,” katanya.
Fakhrul memperkirakan, jika respons kebijakan dilakukan secara cepat dan kredibel, fase overshooting rupiah berpotensi berbalik menjadi penguatan menuju kisaran Rp16.800 per dolar AS.
Selain kebijakan moneter, ia juga menekankan pentingnya komunikasi fiskal yang lebih kuat dari pemerintah, terutama terkait arah subsidi energi, strategi penerbitan obligasi, hingga diversifikasi sumber pembiayaan negara.
Menurutnya, Indonesia perlu mulai memperluas pembiayaan non-dolar AS, termasuk melalui skema pendanaan berbasis renminbi dan penerbitan Dim Sum Bond, seiring perubahan lanskap likuiditas global.
“Dunia sedang berubah. Likuiditas global tidak lagi hanya bertumpu pada dolar AS. Indonesia harus mulai membangun strategi pembiayaan yang lebih beragam,” pungkasnya.










Discussion about this post