MASAKINI.CO – Sejumlah mahasiswa dan dosen Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh melakukan penjajagan sejarah ke kawasan Lamreh, Kabupaten Aceh Besar, Senin (25/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi upaya mengenalkan kembali kekayaan warisan sejarah Lamreh yang menyimpan jejak peradaban Hindu, Islam, hingga kolonial kepada generasi muda.
Dosen FAH UIN Ar-Raniry, Marduati, mengatakan Lamreh merupakan salah satu kawasan bersejarah penting di Aceh karena memiliki berbagai peninggalan dari lintas zaman yang masih dapat ditemukan dalam satu wilayah.
Menurutnya, keberadaan situs-situs tersebut menunjukkan bahwa kawasan pesisir di ujung utara Aceh itu pernah menjadi wilayah strategis yang berperan penting dalam perjalanan sejarah.
“Lapisan sejarah di kawasan Lamreh sangat lengkap dan masih dapat disaksikan hingga hari ini. Karena itu, kawasan ini penting untuk terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi sekarang maupun yang akan datang,” kata Marduati.
Dalam penjajagan tersebut, rombongan mengunjungi sejumlah situs bersejarah, mulai dari Benteng Indrapatra di Gampong Ladong yang menjadi bukti pengaruh Hindu pada masa lampau. Selain itu, mereka juga menelusuri kawasan perbukitan Lamreh yang menyimpan makam serta batu nisan Islam kuno dengan karakteristik khas yang berbeda dari batu nisan era Kesultanan Aceh Darussalam.
Tidak hanya menyoroti peninggalan Islam, rombongan juga mengunjungi Benteng Inong Balee yang dikenal sebagai simbol peran perempuan Aceh dalam sistem pertahanan kerajaan. Benteng tersebut menjadi pengingat akan kiprah para perempuan pejuang Aceh yang turut menjaga keamanan wilayah pada masa lalu.
Jejak sejarah kolonial turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Di kawasan Ujong Batee, peserta menemukan monumen pendaratan pertama tentara Jepang di Aceh serta sejumlah benteng pertahanan Jepang yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Kurok”.
Tidak jauh dari kawasan Lamuri, terdapat pula Benteng Kuta Lubok yang menjadi saksi kehadiran bangsa Portugis di wilayah tersebut.
Guru Besar sejarah UIN Ar-Raniry, Prof. Inayatillah, menjelaskan bahwa berbagai peninggalan sejarah di Lamreh memperlihatkan kemampuan masyarakat Aceh dalam bidang militer dan teknologi persenjataan sejak berabad-abad lalu. Ia mencontohkan kiprah Laksamana Keumalahayati yang memimpin peperangan dengan dukungan persenjataan yang kuat pada abad ke-15.
“Pada abad ke-15, Laksamana Keumalahayati telah memimpin perang menggunakan peralatan tempur yang kuat. Bahkan sejak masa Kerajaan Pasai, Aceh telah memiliki kemampuan militer yang diperhitungkan,” ujarnya.
Menurut Inayatillah, kekuatan Aceh pada masa lalu tidak hanya bertumpu pada senjata tradisional, tetapi juga didukung penggunaan meriam dan berbagai perlengkapan perang lainnya. Kondisi itu menunjukkan bahwa Aceh pernah memiliki kekuatan politik, ekonomi, dan militer yang besar dalam menghadapi berbagai kekuatan asing.







Discussion about this post