MASAKINI.CO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banda Aceh menyebut belum seluruh puskesmas memiliki layanan penanganan tuberkulosis (TBC) secara lengkap. Untuk memastikan pelayanan tetap berjalan, penanganan TBC saat ini dilakukan melalui sistem klaster di fasilitas kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan sistem klaster diterapkan untuk mengintegrasikan layanan TBC ke dalam berbagai kelompok pelayanan kesehatan yang ada di puskesmas.
“Belum seluruh puskesmas memiliki layanan dan fasilitas penanganan TBC yang memadai. Saat ini puskesmas sudah menggunakan sistem pelayanan berbasis klaster,” kata Wahyudi, Kamis (4/6/2026).
Ia menjelaskan, pelayanan TBC tersebar dalam beberapa klaster. Klaster II menangani layanan ibu dan anak, Klaster III untuk pelayanan dewasa dan lansia, Klaster IV berfokus pada surveilans TBC, sementara Klaster V menangani pemeriksaan laboratorium dan farmasi.
Menurut Wahyudi, pola pelayanan tersebut dilakukan untuk memastikan pasien TBC tetap mendapatkan layanan pemeriksaan, pemantauan, hingga pengobatan sesuai kebutuhan meski belum seluruh puskesmas memiliki fasilitas yang sama.
Data Dinkes Banda Aceh, terakhir terdapat 1.617 kasus TBC sensitif obat (TBC SO) dan 17 kasus TBC resisten obat (TBC RO) yang menjalani pengobatan di Kota Banda Aceh.
Dalam penanganan kasus tersebut, Dinkes didukung oleh jaringan fasilitas kesehatan yang terdiri atas 12 rumah sakit pemerintah dan swasta, 11 puskesmas, 22 klinik, serta empat dokter praktik mandiri yang aktif menjalankan program penanggulangan TBC.
Selain pelayanan kesehatan, Dinkes juga terus memperkuat upaya pengendalian TBC melalui penyuluhan dan sosialisasi di tingkat gampong, kunjungan rumah pasien, pelibatan kader kesehatan, serta kegiatan skrining untuk menemukan kasus lebih dini.
Wahyudi menambahkan, ketersediaan obat anti tuberkulosis (OAT) kombinasi tetap saat ini masih mencukupi kebutuhan pasien. Namun, persediaan obat lepasan masih terbatas dan terus menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian TBC tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat untuk melakukan pemeriksaan sejak dini dan menjalani pengobatan hingga tuntas.
“Penanganan TBC harus dilakukan secara bersama-sama. Semakin cepat kasus ditemukan dan diobati, maka risiko penularan di masyarakat juga dapat ditekan,” ujarnya.










Discussion about this post