MASAKINI.CO – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti masih tingginya praktik pemberian susu kental manis kepada balita sebagai pengganti susu. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan masih rendahnya pemahaman masyarakat terkait pemenuhan gizi anak.
Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Lovely Daisy, mengatakan hasil survei Universitas Islam Bandung (Unisba) menjadi perhatian serius karena masih banyak orang tua yang belum memahami kandungan dan fungsi kental manis.
“Hasil ini tentu menjadi keprihatinan kita bahwa masih minimnya pengetahuan gizi, terutama terkait makanan pendamping ASI,” kata Lovely, mengutip infopublik.id, Sabtu (24/7/2026).
Survei Unisba terhadap 2.150 orang tua balita di Indonesia menemukan sebanyak 67,6 persen responden masih memberikan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan.
Menurut Lovely, pemahaman tersebut keliru karena kental manis memiliki kandungan gula yang tinggi, sementara kandungan susunya relatif sedikit.
Ia menjelaskan, gula dalam produk kental manis ditambahkan untuk membantu memperpanjang masa simpan. Akibatnya, sebagian besar kalori dalam produk tersebut berasal dari gula atau karbohidrat.
“Gula ini sengaja ditambahkan sebagai pengawet alami agar produk memiliki masa simpan yang lama,” ujarnya.
Lovely menyebut perubahan kebiasaan masyarakat tidak mudah karena persepsi tentang kental manis sebagai susu telah terbentuk dalam waktu lama. Menurutnya, iklan masa lalu, harga yang relatif murah, serta daya simpan yang panjang menjadi beberapa faktor yang membuat produk tersebut tetap dipilih sebagian keluarga.
Selain itu, kebiasaan membaca label pangan yang masih rendah turut memperkuat kesalahpahaman. Banyak masyarakat belum memahami perbedaan kandungan gizi antara susu dan kental manis.
Menariknya, survei Unisba juga menunjukkan hampir separuh responden merupakan lulusan perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan persoalan tersebut bukan hanya terkait pendidikan formal, tetapi juga literasi gizi.
“Persoalan kental manis bukan hanya soal pendidikan formal, tetapi pemahaman mengenai gizi yang perlu terus diperkuat,” kata Lovely.
Kemenkes pun mendorong penguatan peran kader Posyandu, Puskesmas, dan tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi kepada keluarga.
Edukasi tersebut meliputi pemahaman gizi seimbang, kebiasaan membaca label pangan, serta pemanfaatan makanan lokal bergizi sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan anak.
“Tenaga kesehatan menjadi garda terdepan untuk melakukan edukasi langsung kepada para ibu tentang gizi seimbang dan pemenuhannya berbasis makanan lokal yang terjangkau,” ujar Lovely.










Discussion about this post