MASAKINI.CO – Bank Indonesia Perwakilan Aceh menegaskan bahwa pengelolaan keuangan rumah tangga memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas ekonomi, termasuk pengendalian inflasi.
Dalam seminar yang digelar beberapa waktu lalu, BI Aceh mengedukasi kelompok ibu rumah tangga hingga sektor usaha mikro Aceh.
Kepala Tim Kajian Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) BI Aceh, Leni Novita, mengatakan bahwa kemampuan mengatur keuangan tidak dimulai dari sektor besar, melainkan dari unit keluarga.
Menurutnya, ketika kondisi finansial keluarga tertata, maka keputusan-keputusan ekonomi di tingkat rumah tangga juga akan lebih rasional. “Kalau keuangan keluarga terkelola, pikiran lebih tenang dan keputusan yang diambil pun lebih baik,” ujarnya, Kamis (4/12/2025).
Ia menambahkan, pola belanja yang bijak dapat membantu keluarga tetap stabil dalam berbagai situasi ekonomi. Leni menekankan pentingnya memiliki dana cadangan agar rumah tangga tetap mampu bertahan ketika menghadapi kondisi tak terduga. “Dana darurat itu bukan pilihan, tapi kebutuhan. Dengan cadangan itu, keluarga bisa tetap survive,” katanya.
Selain itu, edukasi tersebut juga mendorong para ibu untuk mulai memikirkan sumber penghasilan tambahan. Leni menyebut, keterampilan berdagang atau usaha kecil dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki kondisi keuangan keluarga.
“Dari usaha kecil, sedikit demi sedikit bisa disisihkan. Lama-lama menjadi modal untuk tabungan maupun investasi,” terangnya.
Sementara itu, CEO dan Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto, yang menjadi pemateri utama, menekankan pentingnya perilaku belanja yang terencana. Ia menyebut kebiasaan sederhana seperti membuat daftar belanja dan menghindari berbelanja saat lapar dapat membantu masyarakat mengendalikan pengeluaran.
“Kelihatannya sepele, tapi disiplin kecil seperti itu sangat menentukan,” ujarnya.
Ligwina juga menegaskan bahwa rumah tangga adalah unit ekonomi terkecil yang ikut berkontribusi dalam menjaga inflasi. Dengan pengelolaan keuangan yang baik, kata dia, keluarga dapat memiliki ruang untuk menabung dan berinvestasi.
“Penghematan itu harus dialihkan, bukan dihilangkan. Uangnya harus masuk ke tabungan atau investasi supaya masa depan lebih aman,” katanya.
Ia turut menyinggung tantangan bagi generasi Z yang cenderung tidak memiliki tanggungan sehingga kurang terdorong untuk menabung. Menurutnya, Gen Z dapat memulai kebiasaan positif dengan membuat dua rekening: satu untuk dana darurat, dan satu lagi untuk tujuan pribadi yang membuat mereka termotivasi.
“Mulai dari yang kecil dulu. Kalau sudah terbiasa, kelak mereka akan mudah mengelola tujuan yang lebih besar,” jelas Ligwina.










Discussion about this post