MASAKINI.CO – Percepatan transformasi digital di Indonesia dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan ketahanan siber perusahaan. Di tengah proyeksi ekonomi digital nasional yang diperkirakan mencapai USD 340 miliar pada 2030, ancaman serangan siber justru berkembang semakin kompleks dan sulit dideteksi.
Kondisi tersebut diungkapkan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) melalui Indosat Business saat meluncurkan whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience bersama pakar keamanan siber, Dr. Ir. Charles Lim.
Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah, mengatakan transformasi digital yang semakin masif membuat kebutuhan perusahaan tidak lagi hanya sebatas konektivitas dan teknologi, tetapi juga kemampuan membangun sistem keamanan siber yang kuat dan adaptif.
“Cyber resilience bukan lagi sekadar isu teknologi, tetapi sudah menjadi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” kata Buldansyah dalam keterangannya yang diterima media ini, Kamis (28/5/2026).
Whitepaper tersebut menyoroti fenomena resilience gap, yakni kondisi ketika laju transformasi digital berjalan lebih cepat dibanding kesiapan organisasi dalam menghadapi ancaman siber modern.
Dalam laporan itu disebutkan ancaman berbasis kecerdasan buatan atau AI kini meningkat tajam, termasuk penggunaan deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan identitas. Bahkan, kasus AI-related fraud di sektor fintech Indonesia dilaporkan melonjak hingga 1.550 persen.
Di sisi lain, tingkat kesiapan perusahaan menghadapi ancaman siber masih rendah. Berdasarkan Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025, hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi serangan siber modern. Sementara kerugian akibat kebocoran data di Indonesia diperkirakan mencapai Rp15 miliar.
Dr. Charles Lim menilai perusahaan harus segera meninggalkan pendekatan keamanan siber yang bersifat reaktif. Menurutnya, ancaman digital saat ini berkembang jauh lebih cepat seiring meningkatnya pemanfaatan AI dalam berbagai sektor industri.
“Organisasi perlu beralih menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Selain membahas strategi seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall, whitepaper tersebut juga menyoroti tingginya risiko siber di sektor strategis seperti finansial, manufaktur, pemerintahan, dan pendidikan yang kini semakin terdigitalisasi.
Indosat Business menilai penguatan ketahanan siber menjadi kebutuhan mendesak, terlebih setelah penerapan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) yang mewajibkan organisasi melakukan pemantauan keamanan dan pelaporan insiden siber dalam waktu 72 jam.







Discussion about this post