MASAKINI.CO – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banda Aceh terus mengembangkan penyidikan kasus pengrusakan dan pembakaran Gedung Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK). Hingga saat ini, polisi telah menetapkan 12 orang sebagai tersangka setelah memeriksa 35 saksi dan mengumpulkan sejumlah alat bukti.
Kasatreskrim Polresta Banda Aceh, Kompol Miftahuda Dizha Fezuono, mengatakan penambahan jumlah tersangka merupakan hasil pengembangan penyidikan yang dilakukan melalui pemeriksaan saksi, analisis rekaman video, serta pendalaman berbagai barang bukti lainnya.
“Sejauh ini jumlah tersangka yang telah ditetapkan sebanyak 12 orang dan saksi yang diperiksa sebanyak 35 orang. Penetapan tersangka dilakukan berdasarkan hasil penyidikan dan alat bukti yang telah dikumpulkan,” kata Dizha, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, para tersangka memiliki peran berbeda dalam aksi penyerangan yang berujung pada pengrusakan dan pembakaran sejumlah fasilitas di lingkungan Fakultas Pertanian USK.
Salah satu tersangka berinisial MJ (23) diduga berperan sebagai pengarah aksi penyerangan ke Fakultas Pertanian sekaligus menunjuk koordinator lapangan serta memimpin rapat sebelum aksi berlangsung. Sementara AH (20) diduga terlibat sebagai pelempar bom molotov dan turut melakukan pengrusakan fasilitas kampus.
Selain itu, penyidik juga menetapkan delapan tersangka lainnya, yakni RA (20), AL (22), FA (21), MGA (20), TAJ (21), HF (22), IS (20), dan TKS (20), yang diduga terlibat dalam penyerangan serta pelemparan terhadap fasilitas Fakultas Pertanian USK.
Polisi menegaskan penyidikan masih terus berjalan dan tidak menutup kemungkinan adanya penambahan tersangka baru apabila ditemukan bukti yang mengarah pada pihak lain yang terlibat.
“Kami masih terus melakukan pendalaman. Jika ditemukan bukti baru yang mengarah kepada pelaku lain, tentu akan kami tindak lanjuti sesuai prosedur hukum yang berlaku,” ujarnya.
Kasus pembakaran dan pengrusakan Fakultas Pertanian USK sempat menyita perhatian publik karena menyebabkan kerusakan sejumlah fasilitas kampus dan mengganggu aktivitas akademik.
Polresta Banda Aceh memastikan proses hukum akan dilakukan secara profesional dan transparan hingga seluruh pihak yang terbukti terlibat dimintai pertanggungjawaban.
“Saat ini penyidikan masih terus berjalan. Kami mengimbau semua pihak menghormati proses hukum yang sedang berlangsung dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu jalannya penyidikan,” kata Dizha.
Sementara itu, pihak Universitas Syiah Kuala terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk mendukung pengungkapan kasus secara menyeluruh. Kampus juga mulai melakukan pemulihan terhadap fasilitas yang terdampak agar kegiatan perkuliahan dapat kembali berjalan normal.









Discussion about this post