MASAKINI.CO – Kementerian Kesehatan menilai kemampuan masyarakat mengenali gejala awal dan tanda bahaya dengue menjadi kunci menekan angka kematian akibat penyakit tersebut. Penguatan edukasi publik dinilai penting untuk mewujudkan target nol kematian akibat dengue pada 2030.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, mengatakan dengue masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia karena tingginya jumlah kasus dan luasnya penyebaran penyakit.
“Deteksi dini dan pencegahan harus berjalan beriringan. Masyarakat perlu memahami kapan harus waspada dan kapan harus segera mencari pertolongan medis,” kata Prima, mengutip infopublik.id, Minggu (14/6/2026).
Data Kementerian Kesehatan mencatat, sepanjang 2025 terdapat 161.752 kasus dengue dengan 673 kematian. Sementara hingga Mei 2026, jumlah kasus telah mencapai 39.672 dengan 105 kematian yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Prima, tingginya kasus dengue menunjukkan bahwa pengendalian penyakit tersebut masih perlu diperkuat melalui pendekatan yang lebih terpadu dan melibatkan banyak pihak.
Pemerintah, kata dia, telah menjalankan berbagai strategi pengendalian dengue, mulai dari pengendalian vektor nyamuk, penguatan surveilans, peningkatan tata laksana klinis, gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, hingga pemanfaatan inovasi seperti Wolbachia dan vaksin dengue.
Namun, berbagai upaya tersebut dinilai belum cukup tanpa dukungan edukasi masyarakat yang kuat. Prima menegaskan, masyarakat perlu memahami pola demam dan tanda bahaya dengue agar pasien dapat segera dibawa ke fasilitas kesehatan sebelum kondisinya memburuk.
Selain deteksi dini, Kementerian Kesehatan juga terus mendorong partisipasi masyarakat dalam gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Prima mengakui target nol kematian akibat dengue pada 2030 bukan sasaran yang mudah dicapai. Untuk itu, diperlukan penguatan tata kelola program, sistem pelaporan kasus, akses diagnosis, pengendalian vektor, hingga dukungan pembiayaan yang berkelanjutan.
Ia menegaskan, keberhasilan menekan angka kematian akibat dengue tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Pemerintah daerah, dunia pendidikan, akademisi, organisasi profesi, media, hingga masyarakat sipil perlu terlibat dalam membangun kesadaran kolektif terhadap bahaya dengue.
“Pendekatan yang kolaboratif dan berbasis bukti harus menjadi fondasi utama kita dalam setiap kebijakan dan implementasi program,” ujarnya.
Melalui penguatan sistem kesehatan dan perubahan perilaku masyarakat, pemerintah berharap target nol kematian akibat dengue pada 2030 dapat tercapai.








Discussion about this post