MASAKINI.CO – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt (GW) mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi hingga mencapai USD28,9 miliar atau sekitar Rp470 triliun.
Proyek ini juga diproyeksikan memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan proyek PLTS 100 GW telah memiliki peta jalan yang jelas dan resmi masuk dalam revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2025–2034.
“Kami buat masterplan dengan perencanaan. Saya lagi usahakan meminta jadwal Bapak Presiden untuk peresmian tahap pertama terhadap PLTS 100 GW. Mungkin kita akan buat di Bali,” ujar Bahlil, mengutip infopublik.id, Selasa (4/8/2026).
Sebagai tahap awal, pemerintah mempercepat pengembangan PLTS dengan kapasitas 17 GW. Untuk mendukung proyek tersebut, Kementerian ESDM bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) telah menyiapkan lahan seluas 24 ribu hektare di Pulau Jawa.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengatakan pembangkit yang dibangun di lokasi tersebut nantinya akan terhubung dengan jaringan transmisi dan gardu induk milik PT PLN agar pasokan listrik dapat disalurkan secara optimal.
Pemerintah menilai proyek PLTS 100 GW menjadi salah satu langkah strategis dalam mempercepat transisi menuju energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengajak investor asal China untuk berpartisipasi dalam pengembangan proyek PLTS 100 GW di Indonesia.
Menurut Airlangga, keterlibatan investasi China dalam pembangunan PLTS Terapung Cirata menjadi bukti besarnya peluang kerja sama kedua negara dalam pengembangan energi terbarukan dan pencapaian target penurunan emisi karbon.
Pemerintah berharap proyek PLTS 100 GW dapat menjadi salah satu penggerak utama transformasi sektor energi nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi impor dan memperkuat bauran energi baru terbarukan di Indonesia.










Discussion about this post