MASAKINI.CO – Pelayanan kesehatan di RSUD Aceh Besar kolaps setelah tenaga medis termasuk dokter spesialis, melakukan mogok massal. Seluruh layanan poliklinik ditutup, membuat ratusan pasien yang datang terpaksa pulang tanpa mendapatkan penanganan.
Sedikitnya 13 poliklinik berhenti beroperasi total. Aksi ini menjadi puncak kekecewaan tenaga medis terhadap kondisi rumah sakit yang dinilai semakin memburuk dalam beberapa bulan terakhir.
Pemicu utama mogok adalah kosongnya sebagian besar obat-obatan yang telah berlangsung sekitar lima bulan. Kondisi ini membuat tenaga medis tidak dapat memberikan pelayanan optimal kepada pasien.
“Bagaimana kami bisa melayani kalau obat tidak tersedia,” ujar salah satu dokter spesialis, dr. Irfan, Sp.P.
Selain krisis obat, tenaga medis juga memprotes belum dibayarkannya Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) sejak Januari 2025 serta jasa medis sejak November 2025 yang hingga kini belum dicairkan.
Masalah tersebut dinilai bukan sekadar administratif, tetapi sudah berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan dan kesejahteraan tenaga kesehatan.
Tenaga medis menduga persoalan ini berkaitan dengan belum optimalnya penerapan status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang telah ditetapkan sejak 2024, namun belum berjalan efektif hingga kini.
Situasi ini diperparah dengan menurunnya jumlah pasien, yang berdampak pada berkurangnya pendapatan rumah sakit dan memperumit kondisi keuangan.
Meski layanan rawat jalan lumpuh, Instalasi Gawat Darurat (IGD) tetap dibuka untuk menangani kasus darurat demi keselamatan pasien.
Para tenaga medis menegaskan aksi mogok akan terus berlanjut hingga ada kepastian penyelesaian, termasuk pengadaan obat, pembayaran hak, serta pembenahan sistem manajemen rumah sakit.
Direktur RSUD Aceh Besar, dr. Bunaya, mengakui kondisi tersebut dan menyebut pihak manajemen tengah berupaya mencari solusi bersama pemerintah daerah.
“Kami tidak menampik adanya kekosongan obat dan keterlambatan pembayaran. Ini menjadi perhatian serius,” ujarnya.
Aksi mogok ini menjadi sinyal keras atas krisis yang terjadi di layanan kesehatan daerah, yang jika tidak segera ditangani berpotensi memperburuk akses masyarakat terhadap pelayanan medis.







Discussion about this post